Review Film La La Land (2016)
Romansa di Kota Penuh Mimpi
Sutradara : Damien Chazelle
Produser : Fred Berger, Gary Gilbert, Jordan
Horowitz, Marc Platt
Penulis : Damien Chazelle
Pemeran : Ryan Gosling, Emma Stone, John
Legend, Rosemarie DeWitt, JK. Simmons
Musik : Justin Hurwitz
Sinematografi : Linus Sandgren
Penyunting : Tom Cross
Produksi : Gilbert Films, Impostor Pictures,
Marc Platt Productions
Distributor : Summit Entertainment
Rilis : 9 Desember 2016 (Amerika
Serikat)
31 Agustus 2016 (Festival Film Venesia)
Durasi
:
128 menit
Negara :
Amerika Serikat
Bahasa : Inggris
Anggaran : $30 juta
Pendapatan : $174,9 juta
kotor
Hai, readers. Pada
kesempatan kali ini, saya akan memberikan sebuah review ke kalian tentang sebuah film yang wajib ditonton nih… Ya
sebenarnya film ini sudah lama dirilisnya yaitu tahun 2016. Tetapi berhubung
saya nggak sempat buat download
filmnya sendiri, jadinya saya terpaksa dehh harus nunggu lama buat ngopi ini film dari teman kampus…
Judul filmnya adalah La
La Land. Kalian tahu apa artinya La
La Land? Yah. Pertama kali saya mendengar kata-kata itu, pikiran saya
langsung terjun ke dunia fairy tale
nya Disney. Semacam Wonderland-nya
Alice atau Neverland-nya Peterpan
lah. Pokoknya inti ceritanya tentang dunia dongeng gitu. Tapi pas nonton
sendiri filmnya, Subhanallah, saya jadi melongo sendiri. Oke, ternyata berbagai
penghargaan yang telah diraih film ini nampaknya nggak bakal membuat kecewa publik dehh. So, you must and must watch this
movie and enjoy the moments ya guys…J
Kata “La La Land” yang saya dapat dari situs Wikipedia
sendiri merupakan sebuah konotasi dari kota Los Angels lho guys. Dan seperti yang diketahui, bahwa Los Angels atau yang sering
disebut dengan “LA” memanglah sebuah kota buat para dreamers yang kepingin menunjukkan dan menguji bakatnya di bidang entertainment. Ternyata sesimpel itu yaa
artinya. Wahh dari judulnya saja sudah dibikin penasaran nih, apalagi isi filmnya
yaa.
La La Land
merupakan sebuah film drama musikal yang dibintangi oleh Emma Stone, Ryan Gosling, dan disutradarai oleh Damien
Chazelle. Film ini telah berjaya dalam ajang Golden Globe Awards 2017 dengan
mengumpulkan tujuh piala, termasuk dua bintang sebagai pemeran aktor dan aktris
terbaik. La La Land telah memecahkan
rekor sebagai film peraih awards terbanyak sepanjang Golden Globe mengalahkan One Flew Over The Cuckoo’s Nest (1975) dan
Midnight Express (1978) masing-masing
dengan 6 awards. Film ini juga mendapatkan label “certified fresh” dari situs agregat Rotten Tomates dengan skor 92
persen serta mendapatkan pujian selangit ketika diputar secara perdana dalam
festival film bergengsi Venice Film
Festival.
Film
yang menjadi saingan Deadpool dan 20th Century Women dalam
ajang Golden Globe Awards 2017 ini berkisah tentang perjuangan Mia dan
Sebastian dalam meraih mimpi dan cinta, sekaligus bakal menyuguhkan pemandangan
kota Los Angels lengkap dengan segala aktivitasnya yang super sibuk. Mia Dolan (Emma
Stone) adalah seorang gadis cantik yang memiliki mimpi menjadi artis terkenal
di Hollywood. Berbagai macam casting
film ia jalani dan kegagalan demi kegagalan tak menyurutkan niatnya untuk
mewujudkan harapan itu. Di samping audisi, ia juga bekerja menjadi seorang barista
di sebuah café milik studio Warner
Bros. Sedangkan Sebastian Wilder (Ryan Gosling) adalah pecinta Jazz yang
idealis. Ia terpaksa bekerja di bar sebagai pianis yang tak sesuai dengan
minatnya hanya karena ingin mengumpulkan modal agar dapat membuka bar Jazz
sendiri. Kelihaiannya dalam bermain piano menarik perhatian Mia selepas pesta mewah
di Hollywood Hills yang melelahkan pada
suatu malam dan bertepatan pula dengan pemecatannya oleh sang manajer bar (J.K.
Simmons) dalam suasana Christmas.
Pertemuan
mereka semakin intens lewat sebuah moment
yang tak direncanakan sepulang pesta yang juga dihadiri oleh keduanya. Moment tersebut adalah adegan paling ikonis
dan adegan paling diingat dalam penayangan film La La Land, karena diambil dalam suasana subuh dengan background eksklusif kota Los Angels.
Kekompakan dan chemistry mereka dalam
adegan tersebut sangat tampak natural dan bakal membuat setiap pasangan iri.
Sebastian yang charming dengan
setelan formalnya dan Mia yang begitu cantik dalam balutan gaun warna kuningnya
benar-benar telah berhasil menghidupkan magic
hour itu dan meninggalkan sweet impression
di hati penonton.
Seiring
berjalannya waktu, Sebastian diterima di sebuah band yang cukup bergengsi—The Messengers—yang digagas oleh
temannya semasa SMA—Keith (John Legend). Kini ia disibukkan dengan syuting
video klip, wawancara, dan tur. Pertemuannya dengan Mia menjadi semakin jarang
dan berakhir pada miss communication
ketika sebuah pertanyaan dari Mia terucap dalam dinner kejutan yang ia rancang. Mia mempertanyakan tentang impian
Seb yang pernah ia ceritakan. Tapi tanggapan Seb malah seolah-olah Mia
menghalangi mimpi-mimpinya dan tidak mendukung sama sekali keputusan yang telah
ia ambil. Sejak saat itu, hubungan mereka semakin merenggang. Di tambah lagi
monolog Mia dalam sebuah panggung drama yang ia biayai sendiri berakhir dengan kekecewaan.
Seb tidak datang untuk melihat penampilannya serta kritikan pedas datang dari
penonton yang tak sengaja ia dengar semakin membulatkan tekadnya untuk
mengakhiri semua impian dan kembali ke rumahnya di Boulder City, Nevada.
Tema
yang diusung oleh sang sutradara—Damien Chazelle— dalam film ini memang tak
jauh dari aliran musik Jazz. Tema ini pernah ia perkenalkan pula dalam film garapan
sebelumnya yang dibintangi oleh Miles Teller yaitu Whiplash. Drummer yang
memang doyan film-film berbau musikal ini memang seakan ingin menunjukkan pada
dunia bahwa Jazz adalah aliran musik yang benar-benar autentik. Setiap
instrumen disusun dan dikemas berbeda tiap harinya untuk menunjukkan keautentikannya
itu. Tema jazz yang dibalut dengan kisah romansa dua sejoli memang sebuah
skenario yang cenderung klise. Namun
Damien berhasil mengemas ke-klise-an itu dengan adegan-adegan yang bakal menghidupkan
kembali arti perjuangan sebuah mimpi. Scoring
dari Justin Hurwitz pun tak kalah membuat bulu kuduk merinding saking melodramatis.
Penonton
akan diajak menyelam ke dalam emosi Emma Stone lewat perannya sebagai gadis
dengan impian berapi-api. Diselingi dengan kesedihan, kekecewaan, dan
keputusasaan yang secara manusiawi pasti juga bakal dirasakan oleh setiap
pemimpi. Kepiawaiannya dalam membawakan emosi lewat “The Fools Who Dream” begitu berimbang dengan keluwesan Ryan Gosling
dalam memainkan piano-pianonya. Chemistry
di antara keduanya memang sudah tak diragukan lagi mengingat ini adalah
kali ketiga kolaborasi mereka setelah Crazy,
Stupid, Love (2011) dan Gangster
Squad (2013). Lagu “City of Stars”
lalu hadir menyelimuti keraguan, ketakterdugaan, dan kasih sayang yang mulai
bersemi di antara keduanya. Dijamin dehh, kalian bakal teringat dengan
mimpi-mimpi yang pernah diucapkan bersama pasangan.
Pada
akhirnya, Damien pun sukses membawakan sebuah ending bittersweet yang akan membuat penonton terperenyak. Ending cerita yang begitu realistis,
membawakan serentetan momentum hukum sebab akibat yang kebanyakan cenderung
miris. Ketika Mia dan Seb saling beradu pandang di akhir perpisahan mereka,
penonton akan dituntun menuju perjalanan flashback
ke masa lalu. Sebuah perjalanan waktu yang tidak patut untuk disesali, apalagi
jika harus mengorbankan masa depan dan impian. Lewat film ini, Damien
mengajarkan kita untuk ikhlas. Cinta memang tak saling memiliki dan begitulah kenyataan
hidup yang sebenarnya. Lewat impian, Mia dan Seb dipersatukan, tapi lewat
impian pula, mereka dipisahkan untuk sebuah alasan yang lebih baik.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)



Tidak ada komentar :
Posting Komentar